decision making dalam kepemimpinan
cara pemimpin dunia mengambil langkah di tengah krisis
Bayangkan kita sedang duduk di sebuah ruangan kedap suara, jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya, dan di atas meja ada sebuah map yang bisa menentukan nasib jutaan nyawa. Kita sedang berada di bulan Oktober 1962. Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy, baru saja mendapat kabar bahwa rudal nuklir sedang diarahkan ke negaranya. Satu keputusan impulsif, satu kalimat yang salah, dan Perang Dunia Ketiga akan meletus.
Pernahkah kita membayangkan, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala seorang pemimpin dunia saat dunia sedang runtuh di sekitarnya?
Secara biologis, JFK hanyalah manusia biasa. Dia memiliki perangkat keras otak yang sama persis dengan yang kita miliki saat ini. Namun, sejarah mencatat bahwa ia tidak menekan tombol peluncuran nuklir. Ia tidak merespons agresi dengan agresi. Ia memilih sebuah jalan memutar yang brilian. Cerita tentang JFK, dan banyak pemimpin hebat lainnya dalam sejarah, sebenarnya bukan sekadar cerita tentang politik. Ini adalah cerita tentang bagaimana manusia menaklukkan biologi mereka sendiri.
Mari kita bedah sedikit apa yang terjadi pada otak kita saat krisis melanda. Teman-teman, kenalkan sebuah struktur kecil berbentuk kacang almond di otak kita yang bernama amygdala. Bagian ini adalah alarm kebakaran purba milik kita.
Saat kita menghadapi krisis—entah itu ancaman nuklir bagi seorang presiden, atau ancaman pemecatan dari bos bagi kita—amygdala akan langsung membajak sistem kesadaran. Otak kita akan dibanjiri oleh hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Mode fight, flight, or freeze (lawan, kabur, atau diam mematung) seketika aktif.
Dalam kondisi ini, aliran darah akan ditarik dari bagian otak yang mengurus logika, dan dialihkan ke otot agar kita bisa bertarung atau berlari. Masalahnya, krisis di dunia modern jarang sekali bisa diselesaikan dengan adu jotos atau lari maraton. Saat seorang pemimpin harus mengambil keputusan krusial, amygdala yang mengambil alih kemudi justru akan membuat keputusan menjadi sempit, reaktif, dan penuh kepanikan. Lalu, pertanyaannya, jika secara biologis kita diprogram untuk panik, bagaimana bisa para pemimpin besar tetap terlihat sedingin es di tengah kobaran api?
Inilah bagian yang paling menarik. Kita sering mengira bahwa pemimpin yang hebat itu tidak punya rasa takut. Kita berasumsi bahwa mereka dilahirkan dengan gen khusus yang membuat mereka kebal terhadap stres.
Ternyata, sains menunjukkan hal yang sebaliknya. Otak mereka sama paniknya dengan otak kita. Detak jantung mereka sama bergemuruhnya. Namun, mereka memiliki satu rahasia kecil. Sebuah retasan psikologis yang secara tidak sadar mereka latih selama bertahun-tahun untuk mengelabui amygdala mereka sendiri.
Ada sebuah ruang jeda yang mereka ciptakan antara stimulus (krisis yang datang) dan respons (keputusan yang diambil). Mereka tahu persis bahwa musuh terbesar dalam krisis bukanlah musuh yang ada di seberang lautan atau saingan bisnis mereka, melainkan sirkuit kepanikan di dalam tengkorak mereka sendiri. Rahasia ini berkaitan erat dengan sebuah konsep psikologi yang disebut psychological distance atau jarak psikologis. Bagaimana cara kerjanya?
Mari kita panggil tokoh sejarah lain untuk menjawab misteri ini: Abraham Lincoln. Di masa Perang Sipil Amerika, Lincoln sering kali menerima kabar buruk atau dikritik habis-habisan oleh jenderalnya sendiri. Secara naluriah, ia sangat marah. Namun, alih-alih langsung memecat atau memaki mereka, Lincoln punya satu kebiasaan unik. Ia akan menulis surat yang sangat panjang, penuh amarah dan caci maki. Tapi, surat itu tidak pernah ia kirimkan. Ia menyebutnya sebagai hot letters. Surat itu hanya akan ia simpan di dalam laci mejanya.
Sains modern akhirnya bisa menjelaskan kejeniusan di balik laci meja Lincoln. Dengan menunda respons, Lincoln sedang memberi waktu bagi bagian otak yang bernama prefrontal cortex untuk menyala kembali. Prefrontal cortex adalah CEO dari otak kita. Dialah yang bertugas memikirkan konsekuensi jangka panjang, merajut empati, dan menyusun strategi logis.
Sayangnya, prefrontal cortex ini kerjanya lambat, kalah cepat dari amygdala. Dengan menulis surat dan menyimpannya di laci, Lincoln menciptakan psychological distance. Ia membiarkan emosinya tersalurkan tanpa menimbulkan kerusakan nyata, sambil mengulur waktu agar logika dan kebijaksanaannya bisa mengambil alih kendali. Inilah rahasia para pemimpin dunia. Mereka tidak mematikan emosi mereka. Mereka sekadar memarkirnya sejenak. Mereka menguasai seni memberi jeda.
Pada akhirnya, teman-teman, kita mungkin tidak sedang memimpin sebuah negara yang sedang di ambang perang nuklir. Tapi, kita semua adalah pemimpin di panggung kita masing-masing. Kita memimpin keluarga kita, memimpin tim kecil di kantor, atau setidaknya, memimpin arah hidup kita sendiri.
Krisis akan selalu datang. Tagihan yang mendadak membengkak, konflik dengan pasangan yang memanas, atau rencana karir yang tiba-tiba hancur berantakan. Saat momen itu tiba, ingatlah bahwa otak kita akan mencoba menipu kita untuk panik.
Namun sekarang kita tahu sainsnya. Kita tahu bahwa kita punya pilihan untuk tidak langsung bereaksi. Kita bisa mengambil napas panjang, berjalan menghirup udara segar, atau menulis hot letters versi kita sendiri di aplikasi catatan smartphone lalu menghapusnya.
Keputusan terbaik jarang sekali lahir dari ketergesaan. Ia lahir dari ketenangan, dari empati, dan dari kemampuan kita untuk memberi waktu bagi pikiran jernih kita untuk bekerja. Karena pada akhirnya, kepemimpinan yang sejati selalu dimulai dari satu hal: keberanian untuk memimpin diri sendiri.